Sunday, 29 March 2020

Puasa Ngomel Tanpa Alasan yang Benar

Puasa minggu pertama di kelas kepompong sengaja milih puasa ngomelin anak tanpa alasan yang benar.
Puasa minggu pertama ini bertepatan dengan awal masa Work from Home (WFH). Butuh adaptasi secara pembagian waktu, tenaga dan emosi. Bunda memiliki peran bukan hanya ganda tapi berlapis-lapis. Memgerjakam pekerjaan kantor, mengurusi rumah, mendampingi belajar anak dalam waktu yang bersamaan tanpa ada partner di rumah karena ayahnya masih harus kerja dan kami tanpa asisten rumah tangga. Ini adalah kenikmatan yang luar biasa. 
Empat hari pertama, kondisi emosi bunda masih sangat labil. Masih sering ngomelin anak-anak tanpa alasan yang benar. Ngomel karena melihat semua perilaku dan pekerjaan anak dari perspektif bunda, bukan dari ukuran mereka. Juga ngomel karena bunda sendiri yang gak tuntas dalam pembagian waktu, tenaga, pikiran, dan emosi.
Kondisi baru mulai lebih terkendali di tiga hari terakhir saat bunda berusaha untuk selalu sadar diri ketika berkomunikasi dengan anak-anak. Sadar diri untuk tidak termakan emosi. Dan mungkin juga disebabkan bunda mulai beradaptasi untuk bekerja di rumah dengan segala perannya. 

Thursday, 26 March 2020

Mengagumi Mereka


Bismillah,

Memasuki hari ketiga tantangan cekatan menjadi bunda yang memanusiakan anaknya. Tujuannya adalah untuk menyadarkan diri bunda kalau anak itu punya perasaan, pikiran dan keinginan sendiri yang gak selamanya terus bisa kita atur sesuai cara pandang kita, orangtua. Perasaan bunda hari ini jauh lebih rileks dari hari sebelumnya karena tantangan hari ini adalah:

Poto dari instagram @anakjugamanusia
Pernah gak setelah ngomelin atau marahin anak trus kita mandangin wajah mereka waktu tidur dengan sejuta penyesalan di dalam dada?

Pasti pernah ya, semarah apapun kita akan luluh dan menyesal saat melihat wajah polos mereka dalam lelap. Melihat mereka terpejam biasanya akan langsung muncul bayangan-bayangan kebaikan dari mereka yang akan menghapus kemarahan bahkan mampu memunculkan tangisan.

Sayangnya, seringkali kita baru menemukan hal-hal baik yang bisa kita kagumi dari mereka setelah omelan dan kemarahan kita meledak. Bayangkan, betapa baiknya anak-anak. Setiap hari kita omeli, kita marahi, tapi mereka tetap tersenyum dan memeluk kita ketika malam menjelang. 

Tantangan ini membuat bunda berusaha untuk selalu dalam posisi sadar dan ingat untuk mengagumi anak-anak. Jujur, bunda sering sekali merasa frustasi karena apa yang dikerjakan anak-anak tidak sesuai dengan kemauan, aturan atau standar bunda. Tapi hari ini, bunda belajar untuk melihat dari sisi kebaikan mereka. Biarkan mereka menjadi yang "sebenarnya" bukan yang "seharusnya. 

Bunda mencoba mengabadikan dalam poto beberapa kegiatan anak-anak hari iniyang membuat bunda kagum pada mereka. 

Mamas sedang piket nyapu dalam rumah
  
Adik sedang piket siram tanaman
Inilah yang dilakukan anak-anak setiap hari. Mereka dapat jadwal piket di rumah setiap hari. Ada 2 macam tugas, yang pertama adalah beresin, nyapu dan ngepel dalam rumah dan teras belakang juga nyiramin taman belakang, yang kedua adalah nyapu teras, nyapu garasi, ngepel teras, nyiramin taman depan dan membuang sampah dari dapur ke tong sampah depan. Mereka akan bertukar tugas piket seminggu sekali, jadi misal minggu ini mamas piket dalam rumah dan adik piket luar rumah, minggu depan gantian mamas yang piket luar rumah dan adik piket dalam rumah. Kalau hari sekolah, biasnaya mereka bagi waktu sendiri mana yang bisa dilakukan sebelum berangkat sekolah dan mana yang akan dilakukan sepulang sekolah atau sore hari. Kalau sekarang ketika mereka sekolah di rumah, semua dilakukan di pagi hari. 

Hal pertama yang membuat bunda kagum sama mereka adalah tanggung jawab mereka dalam melaksanakan piket ini. Mereka benar-benar melaksanakan apa yang sudah kami sepakati. Ya meski sesekali bunda masih perlu mengingatkan, tapi mereka tergolong sangat bertanggung jawab dengan amanah piket ini. Hal yang luar biasa bagi bunda.



Adik pengen maem mi rebus yang jatahnya hanya seminggu sekali. Bunda setujui asal adik mau masak sendiri. Kalau ada kesulitan baru bunda akan bantu
Hal kedua yang membuat bunda kagum pada anak-anak hari ini adalah kemandirian mereka. Ceritanya pagi ini mereka ingin makan mi rebus yang jatahnya hanya boleh seminggu sekali. Bunda setujui dengan syarat mereka masak sendiri. Bunda hanya akan ke dapur membantu mereka kalau ada kesulitan. Sepakat dengan itu, Mamas yang memang hobi masak langsung terjun ke dapur. Nah, si Adik nih yang masih suka maju mundur nyemplung ke dapur akhirnya maju juga demi semangkuk mi rebus. Dan berhasil, bunda hanya bantu menuang mi dengan kuah panas ke mangkuk saja. Good job nak!!

Mamas abis sarapan, kasih sarapan buat Sammy si kura-kura.
Kekaguman ketiga adalah kepedulian anak-anak pada hewan peliharaan. Kami punya 3 kolam ikan dan 1 aquarium. Anak-anak sangat peduli dengan peliharaannya, baik koi di kolam depan, nila, patin, kura di kolam dalam, ikan lele di kolam belakang maupun ikan-ikan hias di aquarium. Seperti pagi ini, setelah sarapan Mamas gantian ngasih sarapan buat si Sammy. Dia nyuapin 2 lembar kubis untuk kura-kura kesayangannya. Sore tadi juga Mamas dan Adik nguras dan membersihkan aquarium, katanya harus dikuras dan dibersihkan seminggu sekali biar airnya tetap bersih dan ikannya gak mabok. Mamas bagian mengeluarkan air dari aquarium ke ember menggunakan pompa dan mencuci tanaman hiasnya, lalu adik bagian mengisi aquarium dengan air yang baru. Kerjasama yang mereka bagi sendiri. Sayang bunda lupa untuk mendokumentasikannya. 


Berjemur sambil mengerjakan PR Kumon

Selama bekerja dan sekolah di rumah, jam 10an adalah jadwal kami untuk berjemur. Biar gak hanya duduk diam, kami memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas. Bunda dengan pekerjaan kantor dan anak-anak dengan mengerjakan PR Kumon. Tugas selesai, berjemur untuk kesehatan tubuh pun terlaksana. Meski adik sering bilang panas...panas...udah 15 menit belum... tapi tetap saja dia duduk manis di teras karena bunda sudah menjelaskan apa pentingnya kita berjemur terutama di masa wabah virus seperti ini.


Mamas dan Adik sedang menyimak materi Gaya dan Gerak dari youtube
Mamas hari ini dapat tugas untuk mempelajari tentang gaya dan gerak dari youtube. Dan seperti biasa si Adik selalu ingin tahu apa saja yang dipelajari sama Mamas. Jadilah tugas anak kelas 4 ini disimak pula sama di anak kelas 3. Bahkan kadang Adik membantu menjelaskan ketika Mamasnya ada yang gak paham. Belajar bersama judulnya ya nak.

Mamas membantu bunda membuat lumpia
Koki cilik bunda ini memang hobi ke dapur sejak kecil. Semakin besar dia semakin terampil di dapur. Apalagi kalau boleh memilih antara mengerjakan PR atau membantu bunda di dapur, gak perlu ditanya deh jawabannya apa. Karena itu, bunda mencoba untuk terus mengasah ketrampilan Mamas di dapur biar menjadi satu sumber kekuatan yang bisa diandalkan nantinya.


Bermain bersama
Beginilah mereka setiap harinya, kadang akur bermain bersama, kadang baku hantam sampai bundanya puyeng. Tapi baiknya hati anak-anak, beranteman sebentar setelah itu mereka ya akur lagi kayak gini. Alhamdulillah. 


Untuk tantangan hari ini nilai bunda adalah Very Good!!

Yeay, semangat. Semoga besok lebih semangat berproses menjadi bunda yang lebih baik lagi, menjadi bunda yang lebih memanusiakan anak-anaknya. 

#tantangan30hari #kelaskepompong #hari3 #bundacekatan #institutibuprofesional #portofolioanak

Wednesday, 25 March 2020

Anakku, Ekspresikan Perasaanmu

Bismillah,

Hari iniadalah hari kedua bunda berusaha menjadi cekatan dalam memanusiakan anak. Tantangan untuk hari ini adalah:

Poto dari instagram @anakjugamanusia

Catatan ini menohok sekali rasanya buat bunda. Setiap hari, alih-alih membimbing anak-anak, bunda lebih banyak meminta mereka untuk selalu menuruti perintah. Dan semakin bunda melakukan refleksi diri, semakin sadar kalau banyak hal yang belum bunda syukuri dari anak-anak. 

Beberapa hari bunda work from home (wfh) dan membersamai mereka seharian, bunda semakin sadar kalau Mamas dan Adik adalah tipikal anak yang sangat bisa diatur. Mereka lebih banyak menuruti apa yang kami minta, apa yang kami perintahkan. Meski kadang sambil menggerutu pelan atau dengan pasang wajah manyun, tapi mereka selalu mengerjakan apa yang kita minta. Misalnya lagi enak-enak menikmati gadget time-nya tiba-tiba kita minta mereka bantu beres-beres, meski sambil ngomel ya mereka tetap ikut membantu.

Nah, sesuai dengan tantangan di atas,  bunda berusaha mengijinkan mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasakan. Bunda berkomitmen untuk memahami bukan menuntut untuk dipahami.

Sejak pagi bunda membebaskan mereka untuk memilih kegiatan apa yang akan dilakukan terlebih dahulu. Apakah mau mengerjakan pekerjaan rumah dulu, mengerjakan tugas sekolah, mengerjakan PR Kumon atau yang lainnya. 
Mamas mengulek kentang goreng untuk membuat perkedel kentang

Mamas memilih untuk membantu bunda menyiapkan sarapan, sedangkan adik memilih untuk mengerjakan PR Kumon dulu. 

Suasana ketika sekolah di rumah
Bunda sudah merasa sukses di pagi hari karena sudah berhasil menekan ego untuk membebaskan mereka memilih. Padahal biasanya bunda selalu hadir dengan perintah panjang mamas harus ini dulu, adik harus itu dulu, abis ini lalu itu, abis itu lalu ini dan seterusnya. 

Adik baru mengerjakan tugas membuat dan menghias kartu pos di malam hari, bunda ijinkan dia mengerjakan yang lain dulu termasuk bermain. Tapi alhamdulillah tanpa diingatkan dia kembali melanjutkan tugasnya di malam hari.

Tapi ternyata itu baru langkah pertama. Satu hari itu panjang kawan. Masih pagi hari di dapur menyiapkan sarapan bareng Mamas, bunda sudah terpancing emosi. Bunda lupa tepatnya apa, yang pasti Mamas melakukan satu hal yang gak sesuai dengan standar bunda. Yup, standar bunda, bukan standar Mamas. Itulah, betapa besar ego bunda terhadap anak. Bunda mengukur kemampuan ketrampilan Mamas di dapur berdasarkan standar bunda bukan standar Mamas.


Hasil karya adik membuat dan menghias kartu pos, sempat rusak karena keinjek Mamas waktu mau sholat maghrib. Di sini bunda terpancing emosi, karena sebelumnya bunda sudah mengingatkan adik untuk menyimpan dulu pekerjaannya karena kita akan segera sholat Maghrib. Mungkin karena merasa sudah menunda pekerjaan dari tadi pagi, adik tetap lanjut mewarnai. Alhasil sobek sedikit kartu posnya keinjek kaki mamas yang basah air wudhu.

Menyadari itu, bunda beristighfar, berusaha untuk kembali menahan diri. Memahami, bukan menuntut dipahami. Seharian bunda berusaha, dan rasanya seperti naik roller coster. Emosi ini up and down dan beatraksi dengan bebasnya.  Seharian rasanya seperti permainan sepak bola, beberapa menit berusaha bertahan, beberapa menit kemudian kebobolan, begitu seterunya. Tapi setidaknya ada fase sadar untuk mengendalikan diri meski belum sempurna.



Mereka yang masih bersinar terang sampai jam 22.30 saat bunda mengerjakan tugas Bunda Cekatan. Biasanya bunda langsung ngomel minta mereka cepat tidur tanpa mendengarkan cerita mereka. Kali ini bunda sadar untuk mendengarkan cerita mereka. Ternyata mereka membuat lego tembakan, yang bisa jadi pedang dan pesawat juga. Apresiasi karya mereka, baru diajak diskusi kalau badannya butuh istirahat dan bermainnya bisa kita lanjutkan lagi esok.

Semoga esok menjadi hari yang lebih baik. Semoga esok bunda bisa menjadi orang tua yang lebih memahami anaknya, menjadi orang tua yang tulus untuk mengijinkan anak-anaknya mengekspresikan pikiran dan perasaannya.

Nilai hari ini lebih baik dari kemarin, Satisfactory


#tantangan30hari #kelaskepompong #hari2 #bundacekatan #institutibuprofesional