Sunday, 18 February 2018

Arjuna Si Pengawas Sampah

📷 source: pinterest


"Kenapa kok kalau hujan jalan-jalan pada banjir Bunda?" Arjuna bertanya sambil menatap genangan air dari balik jendela mobil. 

Seharusnya air hujan mengalir ke dalam got bukan menggenang di jalanan. Air dalam got akan mengalir menuju sungai lalu bermuara di lautan. Tapi sayangnya sekarang aliran air dalam got banyak yang tidak lancar, tersumbat oleh sampah. Begitupun air sungai, sekarang mulai tak lancar mengalir ke hilir. 

"Kenapa ada sampah di got? Sampah kan harusnya di tempat sampah." begitulah pendapat polos anak umur 5 tahun yang masih memegang teguh teori yang benar.

Nak, seandainya semua orang dewasa di luar sana masih mengingat apa yang diajarkan orang tuanya semasa mereka kecil, mungkin got-got dan sungai-sungai itu masih jernih sampai sekarang. Tapi sayangnya bawaan orang dewasa itu suka lupa Nak. Termasuk lupa di mana tempat membuang sampah. 

"Jadi kita harus ingetin tante-tante sama om-om yang lupa dimana tempat buang sampah ya Bunda?" matanya berbinar merasa mendapatkan mandat baru yang harus dilaksanakan. 

Sebenarnya menjaga kebersihan itu adalah tugas kita semua. Mengingatkan orang lain yang berbuat salah termasuk membuang sampah di got dan sungai juga tugas kita. Karena Allah memerintahkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. 

Obrolan seru Bunda dan Arjuna membuat perjalanan ini menjadi cepat. Tanpa terasa kita sudah mau sampai di rumah. Setelah jembatan di depan sana lalu belok kanan, sampai deh kita di rumah. 

"Pelan Ayah ... pelan Ayah ...." tiba-tiba Arjuna berteriak meminta ayahnya mengurangi kecepatan laju mobil ketika bergerak menaiki jembatan. Dan seketika dia membuka jendela. 

"Ooooommm buang sampah itu gak boleh di sungai tauuu. Nanti banjiiir. Buang di tempat sampah doong." 


Tulisan ini diikutkan dalam challenge grup Menulis Cerita Anak. Tantangan untuk membuat cerita fiksi bertemakan superhero dengan pesan cerita menjaga lingkungan. #kelasmenulisceritaanak
#kelasMCA

#odopfor99days #odopfor99days2018 #odopday48
#onedayonepost #ODOPbatch5 #ODOPday27
#PerempuanBPSMenulis #MenulisAsyikdanBahagia #15haribercerita #harike16

Saturday, 17 February 2018

Secercah Harapan Menepis Perilaku Menyimpang

📷 source: pinterest
Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) semakin sering saja beritanya wara wiri di depan mata, baik di televisi maupun sosial media. Hal yang membuat saya ternganga adalah sekarang mereka yang memiliki perilaku menyimpang sudah semakin bangga dengan kesalahannya. Entah bagaimana sejarahnya sampai kini mereka percaya diri untuk menunjukkan pada khalayak kalau mereka adalah pelaku LGBT.

Mungkin kalau kita mau menoleh ke belakang yang namanya wadam alias wanita adam atau bencong itu sudah ada sejak jaman kita kecil. Tapi dulu keberadaan mereka masih menjadi pencilan di antara populasi penduduk negara kita. Mereka masih malu untuk muncul apalagi diketahui orang kalau mereka menyimpang. Rudi Agung P, seorang jurnalis yang membuat tulisan "Menelisik Perjalanan LGBT di Indonesia", menyebutkan bahwa LGBT sudah ada sejak dekade 60-an. Lalu, ia berkembang pada dekade 80-an, 90-an, dan meledak pada era milenium 2000 hingga sekarang. 

Bertambah banyaknya jumlah pelaku LGBT ini sekarang bagaikan berkembangnya jamur di musim hujan. Sikap permisif yang diberikan atas nama kemanusiaan membuat para pelaku LGBT tak sungkan lagi untuk unjuk gigi. Bahkan sekarang sudah ada 200-an organisasi yang menaungi mereka dan sudah tersebar di sekuruh pelosok nusantara. Semakin banyaknya organisasi ini membuat mereka lebih percaya diri menunjukkan eksitensi.

Para pelaku LGBT ini mengatasnamakan Hak Asasi Manusia untuk melegalkan sikapnya. Padahal mereka harus ingat bahwa seks menyimpang menyalahi fitrah manusia, norma dan agama. Hal ini jelas harus dicegah perkembangannya dan disembuhkam penyimpangannya. 

Saya sebagai ibu tentunya sangat khawatir melihat kejadian ini. Apalagi dari banyak berita yamg saya baca, pelakunya bukan hanya remaja tapi juga orang-orang dewasa yang dalam kesehariannya baik-baik saja, mapan, sopan dan tampak cerdas juga ada yang terjangkit virus perilaku menyimpang. 

Kondisi maraknya LGBT tentunya membuat saya berpikir bagaimana nasib anak-anak saya nanti, apa yang harus saya lakukan untuk melindungi mereka dari marabahaya ini. Apakah ketika mereka remaja nanti kondisinya akan semakin menjadi ataukah sudah bisa teratasi?

Pertanyaan saya itu ternyata mendapatkan jawaban. Setahun terakhir saya bergabung dalam komunitas Institut Ibu Profesional dan hari ini saya juga baru bergabung dalam komunitas Keluarga Kita. Dua komunitas ini menekankan benar bahwa pendidikan utama dan pertama seorang anak adalah keluarga. 

Dari dua komunitas ini saya merasakan adanya secercah harapan. Banyak ibu-ibu, bapak-bapak bahkan teman-teman yang masih jomblo semangat untuk belajar bersama tentang pola asuh yang baik terhadap anak. Bagaimana cara melakukan komunikasi efektif dengan pasangan dan anak, bagaimana cara mengelola emosi, bagaimana cara membentuk karakter baik pada anak, bagaimana mengajarkan kemandirian pada anak dan lain sebagainya. Intinya adalah bersama-sama menjadikan anak-anak kita generasi penerus yang terbaik terutama dari segi karakternya. 

Komunitas-komunitas ini memberi bekal pada orang tua untuk terus menjadi pendamping terbaik bagi anak-anaknya. Baik atau tidaknya seorang anak ditentukan oleh pendidikan keluarganya. Komunitas-komunitas ini tersebar di seluruh Indonesia dan keduanya menekankan pada anggotanya untuk menebarkan virus positif tentang pola asuh anak yang baik kepada lingkungan sekitar. 

Bayangkan kalau di kota tempat tinggal saya saja ada 20-an orang yang bergabung dan belajar bersama dalam komunitas-komunitas ini. Lalu, masing-masing menularkan satu saja ilmu yang didapatkan pada lingkungan sekitarnya maka berapa besar efek perbaikan generasi berikutnya yang bisa dihasilkan? 

Dari sini saya mulai merasa percaya diri untuk berharap bahwa nantinya akan ada peradaban baru yang tercipta dari keluarga-keluarga pembelajar ini. Ada secercah harapan yang mulai disemai oleh para pembelajar dalam berbagai komunitas positif untuk menciptakan generasi penerus yang unggul, berakhlak baik dan memiliki karakter handal dan kuat untuk menepis virus perilaku menyimpang. 

Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Februari 2018 pada Blogger Muslimah


#odopfor99days #odopfor99days2018 #odopday47
#onedayonepost #ODOPbatch5 #ODOPday26
#PerempuanBPSMenulis #MenulisAsyikdanBahagia #15haribercerita #harike15
#postingtematik #februari2018 #bloggermuslimah

Thursday, 15 February 2018

Kumpulan Keajaiban Anak Ragil

Anak ragil
Perkenalkan, dia anak ragil, anak yang penuh keajaiban. Celetukan-celetukan gurihnya selalu mewarnai hari-hari kami sekeluarga. Kemampuan verbalnya memang sudah tampak baik sejak dia umur 1,5 tahun. Meski selalu tidak terima saat saya katakan dia cerewet, tetap saja gelar dia cerewet. Anak ragil adalah anak yang sangat kritis dan ceriwis. Berikut beberapa kumpulan cerita keajaiban si anak ragil. 

🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲

Percakapan anak ragil (3 tahun) dan emaknya.

Emak: "Dik, adik itu besok masuk kelas adik sendiri ya di kelas PAUD. Jangan ikut Mas di kelas TK."

Anak: "Gak mau"

Emak: "Kenapa gak mau?"

Anak: "Ya kan adik udah makan sayur siihh."

Emak: (Alasan apalagi ini, pasti cuma mengarang alasan. Apa hubungannya coba masuk kelasnya sendiri dengan makan sayur.) "Emang kenapa kalau makan sayur dik?"

Anak: "Ya kan kalau makan sayur itu katanya adik jadi tinggi."

Emak: "Trus?" (Masih sambil berpikir apa hubungan makan sayur dan masuk kelas sendiri)

Anak: "Ya kan kalau udah tinggi berarti udah boleh masuk kelas TK. Jadi kalau adik makan sayur berarti adik jadi tinggi jadi boleh masuk TK."

Emak: *#$@&$:*&@-@'$

(11 Februari 2015)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Kemarin sandal biru dek Nau hilang sebelah di sekolah, saat pulang ditanya sama budhenya.

Budhe: "Sandalnya yang satu kemana dek?"

Dek Nau: "Hilang di sekolah budhe."

Budhe: "Udah dicari belum dek?"

Dek Nau: "Budheee kalau hilang itu ya udah gak ada kok malah suruh nyari. Ya udah gak ada budhe, udah hilang."

Budhe: (nokomen)


🚲🚲🚲


Tadi pagi sebelum sekolah, Ayah mencari sandal Dek Nau yang merah tapi gak ketemu.

Ayah: "Dek sandal merah ditaruh mana?"

Dek Nau: "Adek buang"

Ayah: "Kenapa dibuanggg adekk itu sandal kan baru jarang dipake sama adek."

Dek Nau: (dengan tenang) "Abis sandalnya kotor ya adek buang aja."

(Ummi di kamar ngomel sendiri. Kemarin mau buang sandal jepit bututnya dia aja harus debat dulu karsena gak diperbolehkan sama Dek Nau, padahal sudah pada copot gambarnya, sekarang giliran sandal baru malah dia buang.)

(12 Agustus 2015)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


My Little Nau

🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Ummi: "Adek, waktunya tidur sekarang, udah malem."

Nau: "Emoh, aku tidurnya nanti aja."

Ummi: "Lha kok nanti sih dek, ini udah malem lho."

Nau: "Ummi ini aku kan lagi pake celana masa disuruh tidur, ya gak bisa. Aku tidure nanti abis pake celana." (Dia baru selesai gosok gigi dan pipis sebelum tidur)

Ummi: *"%@%$-$)@)#&$?-@

(5 Januari 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Dan percakapan terbaru.

Emak: "Dik, botol minumnya kenapa rusak lagi?" (Sudah botol ke-XX yang rusak saat pulang sekolah)

Dik Nau: "Ya nggak tau, dia rusak sendiri."

Emak: "Kalau rusak terus Ummi gak mau beliin botol minum lagi lho ya."

Dik Nau: "Ya udah adik gak usah bawa botol aja. Kan di dapur sekolah juga ada minum."

(11 Februari 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Anak ragil hari ini saat dijemput di sekolah.

Emak: "Adekkk sandalnya mana?"

Anak ragil: "Di atas genteng. Ituuu." (Sambil menunjuk ke genteng)

Emak: "Lhaaa kok bisa nyampe sana, siapa yang lemparin?"

Anak ragil: "Hanun sama aku. Tadi pengen ngenain belalang, tapi gak bisa."

Emak: "Terus nanti adek pake sandal apa, klo sandale di atas genteng??"

Anak ragil: "Ya pake sandal baru lah, kan kemarin udah dibeliin ayah. Ya mau adek pake lah, buat ke sekolah juga."

(22 April 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Si batik ijo

Hari ini anak ragil mengikuti pementasan di sekolahnya. Dia mendapatkan jatah pentas satu kali untuk membaca do'a sehari-hari.

Anak ragil: "Ummi aku tadi naik panggung lagi. Tapi bukan baca do'a."

Emak: "Trus ngapain dong?"

Anak ragil: "Aku halo halo aja."

(Si batik ijo)

(14 Mei 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Anak ragil pagi ini,

"Ummik, ummik itu makannya jangan banyak2 sih. Ummik itu tambah genduuut, naik motornya jadi tambah sempit sekarang."

#sarapanpagi

(24 Juli 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Dimintai tolong menata mainan dan ini hasilnya.

Menata mainan ala anak ragil
Kata anak ragil, "Tentaranya melindungi hewan-hewan dari para pemburu. Kalau pemburunya mau menangkap hewan nanti pemburunya ditembaki sama tentara."

Good job my little Nau.

#bekerjadenganhati

(15 September 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Anak mbarep dan anak ragil beranteman sampai ada yang menangis. Lalu diminta untuk saling bermaafan oleh ayahnya. Ketika semua sudah tenang, ditanyalah mereka,

Ayah: "Jadi tadi kenapa beranteman?"

(Sunyi, gak ada yang menjawab.)

Ayah: "Jadi tadi siapa yang nakal?"

Anak ragil: "Ayah."

Ayah: "Kok ayah?"

Anak ragil: "Iya, ayah nakal orang lagi beranteman malah dipisahin."

(27 Nopember 2016)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


My little Nau yang selalu istimewa cara berpikirnya. Beberapa hari lalu kami sedang seru membahas siapa yang menang antara gajah dan semut. Seperti yang ada dalam buku-buku cerita, kalau ada pertempuran antara gajah dan semut yang menang pasti semut.

Pesan dari cerita itu adalah jangan sombong menjadi orang besar karena yang kecil pun kalau diinjak akan bisa mengalahkan yang besar, kira-kira begitu. Tapi anak ragil ini tidak setuju.

"Gajah dan semut yang menang itu gajah" katanya.

"Kenapa gajah? Kan semut bersatu gigitin kaki gajah." seperti itu biasanya alur di buku cerita.

Jawaban anak ragil, "Kan abis itu semut-semutnya disemprot air pakai belalai gajah, jadi semutnya pergi semua dari kaki gajah karena kesemprot air. Gajah menaanggg."


(5 Januari 2017)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Bentukku bulat
Aku berwarna warni
Ada merah hijau kuning
Ada pula biru putih jingga
Aku diisi dengan gas

Benda apakah aku?

"Baloooooonnnn" si anak ragil menjawab duluan dengan semangat.

Tapi sesaat kemudian, "Harusnya gak gitu, kalau balon tuh macem ni. Aku berbentuk bulat. Aku bisa kempes bisa mlembung. Aku bisa ditiup bisa dipompa".


(9 Februari 2017)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Kemarin si emak dilanda kegalauan setelah mendapat telpon pemberitahuan kalau anak ragil pagi ini harus ikut tes masuk SD. Kaget, karena tahun lalu jadwalnya masih bulan April kalau gak salah. Tahun lalu tes masuk SD dilakukan serentak, sementara sekarang dipanggil satu per satu. Kegalauan si emak bukan karena khawatir anak ragil gak bisa membaca atau menulis. Tapi lebih ke anak ragil pagi ini 'udele lagi bolong' apa tidak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan gurunya. Sounding tentang tes masuk SD belum terlalu banyak kita berikan mengingat jadwal yang saya kira masih lama.

Tapi tadi pagi,

Emak: "Nanti paling ditanyanya udah bisa makan sendiri belum, mandi sendiri, pakai baju sendiri. Udah bisa belum dek?"

Anak: "Udah lah. Kan aku makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri. Tapi... Aku ada yang belum bisa."

Emak: "Apa?"

Anak: "Aku belum bisa pasang tali sepatu sendiri (dg ekspresi sedih)"

Emak: "Ya udah nanti bilang aja kalau memang belum bisa. Yang penting jujur."

Anak: "Kalau bilang belum bisa, nanti aku gak lulus masuk SD" (masih dg ekspresi sedih)

Emak: "Trus gimana dong?"

Anak: "Ya udah kalau gitu sekarang emak ajari aku dulu pasang tali sepatu. Biar nanti kalau ditanyain Bu Guru, aku jawab sudah bisa tapi baru belajar."

Luv u nak. Ternyata kamu antusias sekali untuk masuk SD ya . Dan tetaplah jadi anak jujur ya cinta.

(21 Maret 2017)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Hari ini Ummi sengaja ijin kerja untuk mengantar anak ragil yang masuk SD hari pertama. Eh waktu pulang sekolah, anak yang ditungguin malah tanya, "Kok Ummi tadi gak kerja sih malah nungguin adik di sekolah? Kenapa?"

"Kan adik hari pertama masuk SD makanya Ummi tungguin" jawab saya.

"Trus kenapa kalau Adik hari pertama masuk SD? Kan Adik gak apa-apa Ummi" jawabnya dengan wajah polos.

... dan Umminya pun speechless tak tahu harus menjawab apa.

(17 Juli 2017)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Masih tentang dia.

Dia: "Ummi, untung adik tadi gak dimarahi Bu guru."

Ummi: "Lha kenapa?"

Dia: "Masa tadi itu bu guru nyuruh nulis nama di dalam buku. Ya adik gak nulis lah. Kan di sampul buku sudah ada namanya. Buat apa nulis lagi. Kan bu guru bisa lihat di sampul aja."

Ummi: "Trus bu guru gak marah?"

Dia: "Nggak marah, lha adik tolah toleh kok teman-teman nulis semua. Jadi pas bu guru udah mau nyampe bangkunya adik, ya langsung nulis cepet2."

Ummi: "Dik, itu ibu guru pengen tau yang sudah nulis rapi siapa yang belum siapa. Bukan nyuruh kasih nama bukunya."

Dia: "oh macam tuuuuuhh."

(Cerita hari pertama anak ragil masuk SD)

(17 Juli 2017)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲


Si anak ragil sedang belajar ketika ayahnya pulang kerja. Anak mbarep yang sedang belajar juga langsung menyambut Ayahnya, "Ayah kok gendut banget sih sekarang "

"Lebih gendut mana ayah apa ummi?" tanya si ayah.

Dua jagoan pun terdiam.

Si ayah tersenyum jahil, "Takut ya pasti mau jawab. Kalau jawab umi lebih gendut pasti umi marah nanti ya?"

"Aahhhh aku tau, gini aja. Ayah sama Umi lomba lari dulu. Nanti yang larinya lebih lambat berarti dia yang lebih gendut. Yang menang berarti dia cuma agak gendut.", anak ragil tiba-tiba berwajah sumringah serasa menemukan ide paling cemerlang sejagad raya.

Dan ayah ummi pun cuma bisa terbengong-bengong dengan ide brilian anaknya yang menyimpulkan bahwa hanya ada dua kategori yaitu 'dia yang lebih gendut' dan 'dia yang agak gendut'. 

(12 Desember 2017)


🚲🚲🚲🚲🚲🚲🚲

Tulisan ini diikutsertakan dalam event challenge Menulis Cerita Anak dalam kulwap Kelas Menulis Cerita Anak bersama Putri Utami #menulisceritaanak #kelasmenulisceritanak #kelasMCA


                  #harike10 #tantangan10hari #gamelevel4 #kelasbunsayiip #institutibuprofesional
#odopfor99days #odopfor99days2018 #odopday46
#onedayonepost #ODOPbatch5 #ODOPday25 #tantangan4 #ceritakomedi
#PerempuanBPSMenulis #MenulisAsyikdanBahagia #15haribercerita #harike14